Mungkin bagi sebagian besar pembaca blog ini sudah terbiasa berpergian ke luar negeri dengan beragam pengalaman dan keunikan peristiwa didalamnya. Mulai hari ini saya akan mencoba untuk kembali aktif menulis sebagai bagian teknik untuk memotivasi saya menjadi bersemangat lagi menghadapi kehidupan ini.
Saat ini saya sudah berada di kota Chiba Jepang dalam rangka mengikuti program Sandwich Like dari DIKTI-RI. Saya selalu bersyukur Alhamdulillah bisa mengikuti program ini dengan segala kekurangan yang ada didalam diri saya. Ini adalah saat pertama kalinya saya bisa menjejakkan kaki ke negeri orang dengan status kemampuan berkomunikasi dan finansial yang minim. Bagaimana tidak disaat tabungan mulai menipis dengan berbagai kebutuhan didalam negeri, saya harus menalangi semua dana beasiswa yang belum cair sama sekali. Alhamdulillah, dukungan dari keluarga dan orang-orang terkasih disekitar saya begitu besar. Membuat diri saya sangat terharu sekali dan terkadang menitikkan air mata bila mengingat semua pengorbanan mereka terhadap saya. Hal-hal itulah yang semakin menguatkan jiwa dan raga saya saat berada di Chiba saat ini.
Saat ini saya teringat dengan pesan moral dari salah seorang sepupu saya yang sudah tinggal di salah satu negeri Skandanivia.” Cobalah untuk bisa hidup atau minimal berkunjung ke salah satu negara diluar negeri agar kita tidak menjadi katak dalam tempurung”. Seperti hal yang biasa dan wajar saja bila kita menyimak kalimat tersebut. Namun apabila ditelaah lebih lanjut, sebenarnya makna kalimat tersebut jauh lebih bermakna apabila kita sudah berada diluar negeri. Saya pun sedikit demi sedikit mulai merasakan makna kata tersebut. Hal pertama adalah kesan positif yang saya peroleh saat tiba dinegeri Jepang beberapa hari lalu. Keteraturan hidup dan kepedulian terhadap sesama memberikan gambaran betapa pentingnya suatu peradaban dibangun berdasarkan tataran budaya yang cukup rumit. Bukan sekadar kehidupan yang egosentris, hedonisme dan selfish yang akan menjadi diri kita bertahan ditengah himpitan kehidupan yang keras. Melainkan sikap untuk saling peduli, displin terhadap etika dan norma kehidupan ditambah keteraturan hidup akan menjadikan kita saling melindungi antar sesama. Karena ketidakdisplinan, ketidakteraturan dan ketidakpedulian kita tidak semata-mata hanya merugikan orang lain saja. Melainkan juga memberikan kerugian besar bagi diri kita sendiri secara langsung.
Seperti budaya antri yang saya temui pertama kali saat menaiki moda transportasi kereta api di Jepang untuk pertama kalinya. Serta kekaguman saya terhadap semangat kerja keras dari para lansia yang tetap mau bekerja fisik sebagai pembersih lantai terminal atau penjaga jalur kereta api. Tidak banyak mengeluh dan terus mengerjakan sesuatu hal dengan totalitas pengabdian, seakan-akan menampar diri saya sekeras-kerasnya bila mengingat kebiasaan saya yang amat pemalas dan tukang mengeluh T_T. Hal kedua lainnya adalah tulusnya solidaritas sesama mahasiswa di Indonesia dan rasa persaudaraan yang tinggi membukakan mata hati saya bahwa sesungguhnya nilai-nilai tersebut akan sangat berarti bila kita terasing menjadi kaum minoritas. Hal ketiga adalah bahwa begitu banyak orang hebat dalam usia sangat muda yang berasal dari Indonesia berjuang dengan sangat kerasnya menyelesaikan studinya di negeri orang. Ketiga hal itu membuka selebar-lebarnya diri saya untuk tidak boleh pernah patah semangat dalam menjalani kehidupan ini serta harus dapat menghargai setiap peluang dan kesempatan yang selalu saya peroleh.
Terkadang saya sering terlena dalam kenikmatan hidup dinegeri sendiri dan melupakan bagaimana bangsa lain terus berkerja keras meraih kejayaan negerinya. Sikap rendah diri dan ketakutan akan sesuatu hal yang sering muncul didalam diri saya harus segera disingkirkan. Karena sesungguhnya saya harus menghargai waktu yang berjalan dengan sebaik-baiknya. Alloh telah memberikan kemuliaan kehidupan kepada kita serta tidak pernah memberikan cobaan yang melampaui kemampuan iman kita. Untuk itu, saya harus tetap bersikap positif dan optimis memandang kehidupan ini. Hal positif lainnya adalah saya serasa diajarkan kembali oleh Alloh untuk kembali dalam kehidupan yang sederhana dan tawadhu. Menjauhkan diri saya dari gemerlap kenikmatan duniawi untuk kembali membenamkan diri kepada nilai-nilai yang jauh lebih mulia. Dan saya harus memulai untuk mempercayai diri saya sendiri daripada menyakinkan diri terhadap setiap bentuk penghinaan dan pelecehan dari pihak lain terhadap diri saya. Ada banyak hal yang perlu saya perbaiki dan benahi. Terima kasih ya Alloh, Engkau telah berikan kesempatan dan pelajaran hidup yang begitu mulia kepadaku. Semoga Engkau tidak pernah meninggalkan Hamba-mu yang hina dina ini dalam kesesatan dan kesia-siaan hidup semata. Berkahilah hidupku dengan jalan yang Engkau ridhoi dan berkahi….Amien ya Rabbalallamin.
