Oleh: yudopotter | September 24, 2011

Chiba…jejak pertamaku diluar negeri^^

Mungkin bagi sebagian besar pembaca blog ini sudah terbiasa berpergian ke luar negeri dengan beragam pengalaman dan keunikan peristiwa didalamnya. Mulai hari ini saya akan mencoba untuk kembali aktif menulis sebagai bagian teknik untuk memotivasi saya menjadi bersemangat lagi menghadapi kehidupan ini.

Saat ini saya sudah berada di kota Chiba Jepang dalam rangka mengikuti program Sandwich Like dari DIKTI-RI. Saya selalu bersyukur Alhamdulillah bisa mengikuti program ini dengan segala kekurangan yang ada didalam diri saya. Ini adalah saat pertama kalinya saya bisa menjejakkan kaki ke negeri orang dengan status kemampuan berkomunikasi dan finansial yang minim. Bagaimana tidak disaat tabungan mulai menipis dengan berbagai kebutuhan didalam negeri, saya harus menalangi semua dana beasiswa yang belum cair sama sekali. Alhamdulillah, dukungan dari keluarga dan orang-orang terkasih disekitar saya begitu besar. Membuat diri saya sangat terharu sekali dan terkadang menitikkan air mata bila mengingat semua pengorbanan mereka terhadap saya. Hal-hal itulah yang semakin menguatkan jiwa dan raga saya saat berada di Chiba saat ini.

Saat ini saya teringat dengan pesan moral dari salah seorang sepupu saya yang sudah tinggal di salah satu negeri Skandanivia.” Cobalah untuk bisa hidup atau minimal berkunjung ke salah satu negara diluar negeri agar kita tidak menjadi katak dalam tempurung”. Seperti hal yang biasa dan wajar saja bila kita menyimak kalimat tersebut. Namun apabila ditelaah lebih lanjut, sebenarnya makna kalimat tersebut jauh lebih bermakna apabila kita sudah berada diluar negeri. Saya pun sedikit demi sedikit mulai merasakan makna kata tersebut. Hal pertama adalah kesan positif yang saya peroleh saat tiba dinegeri Jepang beberapa hari lalu. Keteraturan hidup dan kepedulian terhadap sesama memberikan gambaran betapa pentingnya suatu peradaban dibangun berdasarkan tataran budaya yang cukup rumit. Bukan sekadar kehidupan yang egosentris, hedonisme dan selfish yang akan menjadi diri kita bertahan ditengah himpitan kehidupan yang keras. Melainkan sikap untuk saling peduli, displin terhadap etika dan norma kehidupan ditambah keteraturan hidup akan menjadikan kita saling melindungi antar sesama. Karena ketidakdisplinan, ketidakteraturan dan ketidakpedulian kita tidak semata-mata hanya merugikan orang lain saja. Melainkan juga memberikan kerugian besar bagi diri kita sendiri secara langsung.

Seperti budaya antri yang saya temui pertama kali saat menaiki moda transportasi kereta api di Jepang untuk pertama kalinya.  Serta kekaguman saya terhadap semangat kerja keras dari para lansia yang tetap mau bekerja fisik sebagai pembersih lantai terminal atau penjaga jalur kereta api. Tidak banyak mengeluh dan terus mengerjakan sesuatu hal dengan totalitas pengabdian, seakan-akan menampar diri saya sekeras-kerasnya bila mengingat kebiasaan saya yang amat pemalas dan tukang mengeluh T_T. Hal kedua lainnya adalah tulusnya solidaritas sesama mahasiswa di Indonesia dan rasa persaudaraan yang tinggi membukakan mata hati saya bahwa sesungguhnya nilai-nilai tersebut akan sangat berarti bila kita terasing menjadi kaum minoritas. Hal ketiga adalah bahwa begitu banyak orang hebat dalam usia sangat muda yang berasal dari Indonesia berjuang dengan sangat kerasnya menyelesaikan studinya di negeri orang. Ketiga hal itu membuka selebar-lebarnya diri saya untuk tidak boleh pernah patah semangat dalam menjalani kehidupan ini serta harus dapat menghargai setiap peluang dan kesempatan yang selalu saya peroleh.

Terkadang saya sering terlena dalam kenikmatan hidup dinegeri sendiri dan melupakan bagaimana bangsa lain terus berkerja keras meraih kejayaan negerinya. Sikap rendah diri dan ketakutan akan sesuatu hal yang sering muncul didalam diri saya harus segera disingkirkan. Karena sesungguhnya saya harus menghargai waktu yang berjalan dengan sebaik-baiknya. Alloh telah memberikan kemuliaan kehidupan kepada kita serta tidak pernah memberikan cobaan yang melampaui kemampuan iman kita. Untuk itu, saya harus tetap bersikap positif dan optimis memandang kehidupan ini. Hal positif lainnya adalah saya serasa diajarkan kembali oleh Alloh untuk kembali dalam kehidupan yang sederhana dan tawadhu. Menjauhkan diri saya dari gemerlap kenikmatan duniawi untuk kembali membenamkan diri kepada nilai-nilai yang jauh lebih mulia. Dan saya harus memulai untuk mempercayai diri saya sendiri daripada menyakinkan diri terhadap setiap bentuk penghinaan dan pelecehan dari pihak lain terhadap diri saya. Ada banyak hal yang perlu saya perbaiki dan benahi. Terima kasih ya Alloh, Engkau telah berikan kesempatan dan pelajaran hidup yang begitu mulia kepadaku. Semoga Engkau tidak pernah meninggalkan Hamba-mu yang hina dina ini dalam kesesatan dan kesia-siaan hidup semata. Berkahilah hidupku dengan jalan yang Engkau ridhoi dan berkahi….Amien ya Rabbalallamin.

Oleh: yudopotter | Mei 13, 2011

Kejenuhan Menulisku Muncul Kembali Nih….T_T

Terkadang muncul kejenuhan didalam menulis. Apalagi saat ini, saya merasa ketidakfokusan didalam berkarya. Awalnya ingin menulis yang “serius” didalam konteks ilmu pengetahuan. Namun yang terjadi adalah kebuntuan didalam mencari inspirasi menulis. Apakah ini disebabkan tidak adanya variasi didalam menulis.

Sempat terpikir untuk menulis sesuatu yang out of box, terlepas dari lingkup kehidupan sehari-hari. Mulai menulis untuk sesuatu hal yang terlihat simpel dan mudah dipahami oleh orang lain. Atau malah terkadang, saya harus membebaskan diri dalam menulis apapun tanpa perlu mengkhawatirkan apakah tulisan saya dapat dipahami oleh orang lain?. Karena selama ini saya selalu terbebani oleh susunan kalimat, kata, EYD dan lain sebagainya yang membuat saya menjadi jengah didalam menulis. Personifikasi, sarkasme atau bahkan hiperbola menjadi sesuatu hal yang tabu didalam kebiasaan menulis saya. Saya terlalu tunduk dan patuh terhadap petuah-petuah guru-guru, reviewer serta senior dalam memenuhi ambisi menulis ilmiah yang indah dan baku. Akibatnya malah saya terpasung untuk menulis segala sesuatu didalam konsep yang beralur dan bersifat empiris.
Padahal saya merindukan masa-masa SD, SMP dan SMA dimana saya bebas menuangkan segala kreatifitas menulis. Terlepas dari aturan baku penulisan dan EYD yang mengekang tulisan saya. Untuk memahami segala sesuatu didunia ini. terkadang saya menjadi beku pada tempat yang baik, bukan kepada isi yang menyenangkan. Mungkin inilah saatnya saya harus memuaskan hasrat sendiri untuk menulis. Dan ini saatnya saya mencoba menjadi sosok egois dan arogan dalam tulisan saya. Ada saatnya juga saya untuk menulis bagi kepuasan diri sendiri karena terkadang orang lain pun tidak dapat memahami kepuasan batin saya didalam menulis. Membebaskan diri dalam berekspresi serta melepaskan diri dari tekanan adalah kunci keberhasilanku dalam melepaskan kejenuhan ini.
Mulai saat ini saya akan menulis hal-hal yang bagi orang lain tidak jelas, tidak bermanfaat atau bahkan hal yang memuakkan. Selamat datang dunia khayalanku^^

Oleh: yudopotter | November 16, 2010

Mengenal Geologi Cekungan Bandung

Cekungan Bandung merupakan cekungan (basin) yang dikelilingi oleh gunung api dengan ketinggian 650 m sampai lebih dari 2000 meter. Sungai Citarum yang berhulu di gunung Wayang Kabupaten Bandung (1700 m dpl) melewati dasar cekungan dan mengalir menuju Waduk Saguling, bermuara di pantai utara Jawa tepatnya di Kabupaten Karawang. Berdasarkan ciri-ciri litologi, Cekungan Bandung terbagi atas 4 bagian berdasarkan batuan penyusunnya yaitu: endapan tersier, hasil gunung api tua, hasil gunung api muda dan endapan danau (Narulita et al., 2008). Untuk penjelasan terhadap geologi Cekungan Bandung berdasarkan studi pustaka, dapat dijabarkan dalam beberapa sub bab sebagai berikut:

1.  Morfologi

Terkait dengan batas wilayah Cekungan Bandung, terdapat 4 anggapan mengenai batas luasan Cekungan Bandung (Brahmantyo, 2004), yaitu:
a. Dataran Tinggi Bandung (wilayah administratif Kota Bandung saat ini kecuali kecuali kawasan Kota Bandung utara yaitu sebelah utara jalan raya timur meliputi: Surapati-Cicaheum-Ujungberung-Cileunyi).
b. Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu.
c. Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum-Rajamandala (Waduk Saguling).
d. Batas Administratif Kabupaten Bandung Bagian Barat.
Batasan Cekungan Bandung adalah daerah yang didasarkan pada sebaran endapan danau Bandung purba yang secara morfologis membentuk Dataran Danau Bandung dan daerah sekelilingnya yang merupakan sumber asal endapan danau (Brahmantyo, 2005). Sehingga Cekungan Bandung adalah cekungan topografi yang membentuk daerah pengaliran Citarum hingga berakhir di titik aliran Citarum pada daerah perbukitan Rajamandala (Pasir Kiara-Pasir Larang, berdekatan dengan poros bendungan Saguling). Definisi batasan Cekungan Bandung ini sesuai dengan anggapan ke-3 yaitu DAS Citarum-Rajamandala (Waduk Saguling)  (Brahmantyo, 2005).
Untuk identifikasi satuan bentang alam, Cekungan Bandung dapat dibagi menjadi beberapa satuan bentang alam (Sampurno, 2004), sebagai berikut:

a. Satuan Dataran Danau Bandung

Satuan Dataran Danau Bandung berukuran cukup luas dengan ukuran kurang lebih 750 km persegi yang memanjang ke arah barat-timur, terletak pada ketinggian sekitar 700 m dpl. Luas dataran ini sekitar 20 persen dari seluruh Cekungan Bandung. Dataran ini merupakan dataran endapan danau Bandung purba yang telah mengering ribuan tahun yang lalu. Sungai utama dari dataran ini adalah Citarum yang membelah dataran danau sehingga Ci Tarum terletak pada titik terendah pada Cekungan Bandung. Di dalam satuan dataran danau terdapat Dataran Kipas Aluvial yang menempati seperlima luas Dataran Danau Bandung. Dataran Kipas Aluvial menyebar hingga meliputi daerah Cimahi-Dago sebagai batas utara menuju Cicaheum dan Buah Batu. Citarum mengalir di Dataran Danau Bandung dengan pola meander berkelok-kelok khususnya di sebelah utara Ciparay hingga Curug Jompong (sebelah selatan Cimahi).

b. Satuan Kerucut Gunung Api

Satuan Kerucut Gunung Api merupakan pagar yang mengelilingi dataran danau, menempati sekitar 70 persen dari seluruh luas daerah Cekungan Bandung.  Satuan ini terdiri dari badan gunung api kuarter dengan ketinggian sekitar 2000 m. Di sebelah utara berjajar deretan gunung api Burangrang, Tangkuban Perahu (2076 m), Bukit Tunggul, Canggak, Manglayang. Untuk di sebelah timur terdapat kerucut-kerucut gunung api kecil-kecil antara lain Mandalawangi (1650 m), Mandalagiri, Gandapura dan lain sebagainya. Bagian selatan terdapat dataran danau berjajar gunung api Malabar (2343 m), Patuha (2434 m) dan lain sebagainya. Diantara gunung-gunung api tersebut masih banyak ditemui endapan-endapan vulkanik seperti breksi vulkanik, tufa, beberapa lidah-lidah lava. Tufa di daerah Lembang dan Dago kaya akan batu apung dan bersifat tras. Ke arah Satuan Dataran Danau, kerucut gunung api menjadi melandai membentuk kaki gunung api dimana kemiringan lahannya berkisar 5 hingga 15 persen.

c. Satuan Pematang Homoklin

Satuan Pematang Homoklin adalah perbukitan memanjang yang membentuk daerah perbukitan Rajamandala-Padalarang, memanjang kurang lebih dengan arah timur timur laut- barat barat daya. Kedudukan satuan ini berada di dinding barat dari Cekungan Bandung dimana terdapat celah aliran Ci Tarum yang membelah perbukitan. Memiliki ketinggian sekitar 800-1000 m dpl dan seluas kurang lebih 7 persen dari luas total Cekungan Bandung. Pematang Homoklin menunjukkan bahwa lereng sebelah utara lebih terjal sekitar kurang lebih 30-140 persen dibandingkan daerah lereng sebelah selatan. Lereng selatan memiliki kemiringan lapisan pembentuknya sekitar rata-rata 30-60 persen. Ci Tarum menyusuri daerah di sebelah selatan perbukitan Rajamandala. Batuan-batuan pembentuknya adalah berbagai batuan sedimen marin tersier dari berbagai formasi antara lain batu gamping dan batu lempung.

d. Satuan Perbukitan Isolasi

Di dalam satuan dataran danau bermunculan bukit-bukit yang terpisah satu sama lain atau berkelompok menjadi jajaran perbukitan. Bukit-bukit tersebut dikelompokkan menjadi suatu Satuan Perbukitan Terisolasi yang terdapat di sebelah selatan Cimahi dan Dayeuhkolot dan berketinggian sekitar 800-900 m. Bukit-bukit tersebut antara lain Gunung Bohong (878 m), Gunung Pangaten, Gunung Koromong, Gunung Geulis dan lain sebagainya. Sungai-sungai yang berada di kaki perbukitan kerucut gunung api maupun yang berada di dataran danau mengandung berbagai jenis pasir untuk bahan bangunan.

2.  Geologi dan Sifat-Sifat Fisik Batuan

Litologi penyusun wadah dan isi Cekungan Bandung adalah batuan gunung api yang secara stratigrafi kegiatan vulkanismenya sudah dimulai sejak Kala Paleosen. Berdasarkan Bronto and Hartono (2006), kemungkinan pembentukan Cekungan Bandung disebabkan oleh 4 hal utama yaitu:
1. Merupakan cekungan antar gunung (intra-mountain basin), sebagai bentukan utamanya adalah proses eksogen.
2.  Merupakan graben, sebagai bentukan murni deformasi tektonika.
3.  Merupakan kaldera, sebagai bentukan murni letusan gunung api.
4. Merupakan volcano-tectonic calderas, sebagai hasil perpaduan proses tektonika dan  vulkanisme.
Cekungan Bandung terdiri atas berbagai formasi morfologi yang terdiri atas berbagai batuan berumur Oligosen hingga Resen. Batuan-batuan tersebut dikelompokkan dalam beberapa formasi (Sampurno, 2004 dan Hutasoit, 2009), sebagai berikut:

a. Formasi Cibeureum

Merupakan lapisan aquifer utama dengan sebaran berbentuk kipas yang bersumber dari Gunung Tangkubanparahu. Formasi ini terutama terdiri atas perulangan breksi dan tuf dengan tingkat konsolidasi rendah serta beberapa sisipan lava basal, dengan umur Plistosen Akhir-Holosen. Breksi dalam formasi ini adalah breksi vulkanik yang disusun oleh fragmen-fragmen skoria batuan beku andesit basal dan batu apung.

b. Formasi Kosambi

Nama Formasi Kosambi diusulkan oleh Koesoemadinata dan Hartono (1981) untuk menggantikan nama Endapan Danau yang digunakan oleh Silitonga (1973). Sebaran formasi ini dipermukaan adalah di bagian tengah. Litologinya terutama terdiri atas batu lempung, batu lanau dan batu pasir yang belum kompak dengan umur Holosen. Formasi ini mempunyai hubungan menjemari dengan Formasi Cibeureum bagian atas. Berdasarkan sifat litologinya, formasi ini berperan sebagai akuintar di kawasan Cekungan Bandung.

c. Formasi Cikapundung
Formasi ini adalah satuan batuan tertua yang tersingkap di daerah penelitian (Koesoemadinata dan Hartono, 1981) dan terdiri atas konglomerat dan breksi kompak, tuf dan lava andesit. Umur formasi ini diperkirakan Plistosen Awal. Kekompakan litologi penyusun formasi ini dapat digunakan sebagai salah satu pembeda dengan formasi Cibeureum serta dasar untuk menentukan peran formasi ini sebagai batuan dasar hidrogeologi di kawasan Cekungan Bandung. Menurut Silitonga (1973) formasi ini adalah ekuivalen dengan Qvu. Selain formasi ini, berdasarkan sifat litologinya Qvl, Qvb, Qob, dan Qyl dapat dimasukkan sebagai batuan dasar. Satuan-satuan lain yang membentuk batuan dasar adalah batuan gunung api Kuarter (kecuali Formasi Cibeureum dan Formasi Cikapundung), batuan gunung api Tersier, batuan sedimen Tersier, dan batuan terobosan yang tercakup didalam peta geologi.

c. Endapan Batuan Vulkanik (Kuarter)

Berbagai endapan gunung api dapat dipisahkan antara lain berdasarkan umur maupun komposisi. Umumnya terdiri dari breksi vulkanik, tufa, lidah-lidah lava, endapan lahar dan aglomerat. Tufa dari Gunung Tangkuban Perahu yang menyebar hingga Lembang, beberapa tempat di Dago, dan Kipas Aluvial Bandung utara, sebagian besar mengandung batu apung yang bersifat berpori dan permeabel. Tufa yang membentuk daerah Gunung Burangrang, Gunung Sunda, Gunung Bukit Tunggul, Gunung Canggak dan perbukitan Dago Utara hingga Maribaya terdiri atas breksi vulkanik berselingan dengan endapan lahar, tufa halus dan lidah-lidah lava. Sifat batuan umumnya sedikit kompak daripada tufa berbatu apung tetapi masih cukup permeabel. Lapisan endapan vulkanik di sebelah utara umumnya menunjukkan kemiringan ke arah selatan sekitar 5-7 derajat. Pada permukaannya, endapan vulkanik menunjukkan tanah hasil pelapukan yang bersifat gembur dan mudah terkikis tetapi subur.

d. Endapan Danau Purba

Terdiri dari lapisan-lapisan kerakal, batu pasir, batu lempung, tersemen, lemah, gembur dan terkadang kenyal. Beberapa lapisan bersifat permeabel dan menjadi akifer yang baik. Beberapa lapisan lain bersifat lembek, organik dan mempunyai daya dukung rendah dan air tanah yang dikandungnya dapat bersifat agak asam atau berbau sulfur. Kedudukan lapisan umumnya horisontal dengan hubungan antar lapisan kadang-kadang berbentuk silang jari.

e. Endapan Aluvial

Terdiri dari kerikil, pasir, lanau dari endapan sungai atau endapan banjir pada umumnya bersifat lepas sampai tersemen lemah, atau plastis bahkan dapat bersifat mengalir bila jenuh air. Pasir lepas dan kerakal endapan sungai masih mengandung cukup banyak lumpur.

Sebagai gambaran dari kondisi geologi kawasan Cekungan Bandung, dapat dilihat pada gambar 1, sebagai berikut:

Sumber Referensi:
Brahmantyo, 2004. Mencari Delineasi Geomorfologi Cekungan Bandung. Departemen Pekerjaan Umum: Jakarta
Brahmantyo, 2005. Geologi Cekungan Bandung. Diktat Kuliah. Institut Teknologi Bandung: Bandung
Hutasoit, 2009. Kondisi Permukaan Air Tanah Dengan Dan Tanpa Peresapan Buatan Di Daerah Bandung: Hasil Simulasi Numerik. Jurnal Geologi Indonesia: Bandung

Oleh: yudopotter | November 27, 2009

Worm Berbahaya Mulai Serang iPhone

Jangan pernah mencoba melakukan jailbreak pada iPhone Anda. Mungkin itu pesan yang ingin disampaikan Apple pada para pengguna smartphone layar sentuh hasil besutan mereka tersebut. Baru-baru ini, F-Secure (perusahaan keamanan jaringan) menemukan adanya worm baru yang semuanya ditemukan pada iPhone hasil jailbreak. Jailbreak dapat mengijinkan pengguna iPhone dan iPod Touch untuk menjalankan sebuah kode unofficial untuk melakukan bypass pada mekanisme resmi Apple, yaitu melalui App Store. Saat berhasil melakukan jailbreak, para pengguna iPhone atau iPod Touch mampu me-download banyak aplikasi yang tidak tersedia di App Store.

Worm ini secara spesifik menyerang warga Belanda yang menggunakan iPhone yang telah di-jailbreak untuk melakukan Internet banking dengan bank ING. Para korban tersebut akan “dilempar” ke sebuah website palsu yang tampilannya mirip dengan tampilan online banking milik ING, lengkap dengan kotak log-in. Mirip dengan teknik Phising yang sedang marak-maraknya terjadi belakangan ini.

Selain memanfaatkan jailbreak, para penjahat cyber tersebut juga harus memanfaatkan program SSH yang diinstal oleh para pengguna iPhone tersebut. Secure Shell (SSH) adalah sebuah network protokol yang mengijinkan transfer data pada dua buah peralatan yang terhubung. SSH akan terinstall dengan password default, yaitu “alpine”. Nah, bagi para user yang tidak mengganti password tersebutlah yang benar-benar dalam bahaya. Jadi, bagi Anda yang belum mengganti password SSH, ubah saat ini juga.

Worm yang menimpa iPhone ini adalah masalah keamanan kedua yang dihadapi oleh Apple. Apabila pada serangan pertama hanya bersifat “iseng” dari si pembuatnya, worm kedua ini bersifat lebih berbahaya karena berusaha mengambil data penggunanya.

Dikutip dari website resmi majalah CHIP
[Thanks Gizmodo dan Engadget]
http://chip.co.id/articles/news/2009/11/24/worm-berbahaya-mulai-serang-iphone/

Oleh: yudopotter | November 22, 2009

Konsepsi Wawasan Nusantara dan Deklarasi Djuanda 1957

Sebelum tahun 1957 sesuai dengan “ Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonatie tahun 1939”, lebar laut wilayah Indonesia adalah 3 mil diukur dari garis air rendah di pantai masing-masing pulau Indonesia (Djalal, H., 1979).
Menjelang tahun 1957 ketentuan ini terasa sangat tidak memadai lagi untuk memelihara kebutuhan-kebutuhan vital Indonesia, baik di bidang politik, ekonomi maupun Hankamnas. Satu-satunya jalan yang paling tepat untuk menjamin kepentingan Indonesia tersebut adalah melalui jalan garis-garis dasar, yaitu melalui “konsepsi archipelago” atau “Wawasan Nusantara”.
Melalui konsepsi Nusantara ini, maka pelaksanaan soverenitas Indonesia ke laut dapat dibatasi kepada perairan-perairan Nusantara saja, bilamana perlu untuk dapat menjamin kebutuhan-kebutuhan terhadap usaha-usaha penyatuan bangsa, pemeliharaan kestabilan dan keamanan, serta pemeliharaan kekayaan-kekayaan alam di perairan Indonesia tersebut. Pada tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan suatu pernyataan (deklarasi) mengenai wilayah Perairan Indonesia, sebagai berikut: “Bahwa segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak daripada Negara Republik Indonesia. Lalu lintas yang damai di perairan pedalaman ini bagi kapal asing terjamin selama dan sekedar tidak bertentangan dengan kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia. Penentuan batas laut teritorial yang lebarnya 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik-titik yang terluar pada pulau-pulau Negara Republik Indonesia akan ditentukan dengan Undang-Undang”(Kusumaatmadja, M., 1999). Pertimbangan-pertimbangan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia, adalah:
1. Bahwa bentuk geografi Republik Indonesia sebagai suatu negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau mempunyai sifat dan corak tersendiri yang memerlukan pengaturan sendiri;
2. Bahwa bagi kesatuan wilayah (teritorial) Negara Republik Indonesia semua kepulauan serta laut yang terletak di antaranya harus dianggap sebagai satu kesatuan yang bulat;
3. Bahwa penetapan batas-batas laut teritorial yang diwarisi dari pemerintah kolonial sebagaimana termaktub dalam “Teritoriale Zee en Maritime Kringen Ordonnantie 1939” pasal 1 ayat (1) tidak sesuai lagi dengan kepentingan keselamatan dan keamanan negara Republik Indonesia;
4. Bahwa setiap negara yang berdaulat berhak dan berkewajiban untuk mengambil tindakan-tindakan yang dipandangnya perlu untuk melindungi keutuhan dan keselamatan negaranya. Pernyataan ini dikeluarkan Pemerintah Indonesia disaat sedang menghadapi bahaya dari luar maupun dari dalam (sengketa Irian Barat dengan Belanda dan pemberontakan dalam negeri). Sehingga tahun 1956 dibentuk panitia Interdepartemental untuk meninjau kembali masalah laut teritorial dan lingkungan maritim.
Dimana ditetapkan doktrin wawasan nusantara memiliki tiga landasan (Pandoyo, S.T., 1994), sebagai berikut:
1. Landasan Ideal: Pancasila (terutama sila Persatuan Indonesia).
2. Landasan Konstitusional : Undang-Undang Dasar 1945 (alinea IV Pembukaan UUD 1945, yis. Pasal 1 ayat (1) dan pasal 33 ayat (3) UUD 1945).
3. Landasan Operasional: Ketetapan MPR No. II/MPR/1983 (sejak dari Ketetapan MPR No. IV/MPR/1978 masing-masing tentang GBHN).
Pengumuman Pemerintah (13 Desember 1957) tersebut akan dipertahankan dalam Konferensi Internasional mengenai hak-hak atas lautan yang diselenggarakan pada bulan Februari 1998 di Jenewa.

Oleh: yudopotter | November 22, 2009

Sejarah Penetapan Batas Laut Negara

Penetapan batas negara secara alamiah menjadi menjadi salah satu syarat utama suatu bangsa sudah berdaulat, yaitu:

(a) Memiliki wilayah,

(b) Memiliki pemerintahan,

(c) Memiliki warga negara.

Batas negara diperlukan untuk memberikan batas kewenangan dan penguasaan bagi suatu pemerintahan selain menunjukkan suatu negara memiliki wilayah. Untuk dapat menetapkan suatu batas wilayah diperlukan suatu landasan hukum yang mengaturnya. Bila dilihat dari perjalanan waktu, penetapan batas negara di laut jauh lebih maju daripada darat dikarenakan tingkat kesulitan penetapan batas di laut yang lebih tinggi.

I.1. Masa Imperium Romawi

Sebelum Imperium Romawi berada dalam puncak kejayaan, Phoenicia dan Rhodes mengkaitkan kekuasaan atas laut dengan pemilikan kerajaan atas laut. Pengaruh pemikiran tersebut tidak terlalu besar (kecuali Hukum Laut Rhodes tentang perdagangan) karena tenggelam dalam perkembangan laut yang didasarkan atas hukum Romawi pada abad pertengahan dimana saat itu tidak ada pihak lain yang menentang kekuasaan mutlak Romawi terhadap Laut Tengah. Laut Tengah pada masa itu seperti danau dalam wilayah Imperium Romawi dan menjadi lautan yang bebas dari gangguan bajak laut sehingga semua orang bebas menggunakan Laut Tengah dengan aman dan sehjatera. Pemikiran hukum yang melandasi sikap Bangsa Romawi terhadap laut adalah bahwa laut merupakan suatu hak bersama seluruh umat (res communis omnium) sehingga penggunaan laut terbuka bagi setiap orang.

Peraturan-peraturan hukum laut Rhodes yang berasal dari abad ke-2 atau ke-3 SM, sangat berpengaruh di daerah Laut Tengah karena prinsip-prinsipnya diterima baik oleh orang-orang Yunani dan Romawi. Kitab Undang-Undang Rhodes yang dikeluarkan pada abad ke-7 Masehi oleh orang-orang Romawi didasarkan pada peraturan-peraturan hukum laut Rhodes. Di kawasan Laut Tengah sekitar abad ke-14 terhimpun sekumpulan peraturan hukum laut yang dikenal dengan Consolato del Mare yang merupakan seperangkat ketentuan hukum laut yang berkaitan dengan perdagangan (perdata).

 

I.2. Masa Abad Pertengahan

Negara-negara yang muncul setelah keruntuhan Imperium Romawi, masing-masing menuntut sebagian dari laut yang berbatasan dengan pantainya, seperti Venetia menuntut sebagaian besar Laut Adriatik dan Genoa mengklaim kekuasaan atas Laut Liguria. Alasan negara-negara melakukannya, adalah:

  1. Perlindungan kesehatan (karantina), terutama terhadap penyakit bahaya pes.
  2. Pencegahan penyeludupan (bea cukai).
  3. Pertahanan dan netralitas (suatu daerah yang bebas dari tindakan permusuhan yang penguasaannya tergantung kemampuan pantai).

Kebutuhan untuk menyusun suatu teori hukum tentang status antar negara terhadap laut menyebabkan ahli-ahli hukum Romawi yang disebut Post-Glossator mencari penyelesaian hukumnya didasarkan atas azas-azas dan konsepsi-konsepsi hukum Romawi.

Bartolus meletakkan dasar bagi pembagian atas laut yang berada di bawah kekuasaan kedaulatan negara pantai (Laut Teritorial) dan di luar itu berupa bagian laut yang bebas dari kekuasaan dan kedaulatan siapapun (Laut Lepas). Baidus membedakan tiga konsepsi berkaitan dengan penguasaan atas laut, sebagai berikut:

  1. Tindakan yang dilakukan untuk melindungi laut sebagai sumber kekayaan alam.
  2. Tindakan untuk kepentingan Hankam, bea cukai, kesehatan dan lain-lain.
  3. Tindakan yang bertujuan melindungi laut sebagai sarana komunikasi.

Tahun 1493 Paus Alexander VI mengeluarkan piagam Inter Caetera, yang berisi tentang pembagian wilayah dan samudera di dunia menjadi dua kekuasaan yaitu Portugal dan Spanyol sebagai upaya penyelesaian konflik diantara mereka. Kerajaan Inggris masa itu juga menganut domino maris, yang dilandasi hasrat untuk  melindungi perikanan di perairan Inggris terhadap nelayan asing, yaitu dengan menyatakan laut sebagai King’s Chamber (oleh raja Charles II) dimana batas-batas menggunakan garis-garis lurus yang ditarik dari ujung-ujung kepulauan Inggris.

 

I.3. Perkembangan Doktrin Hukum Laut

Tantangan keras terhadap konsepsi laut tertutup (mare dausum) berdasarkan doktrin domino maris dari pihak yang memperjuangkan azas kebebasan berlayar (freedom of navigation) yang didasarkan atas pendirian bahwa lautan itu bebas untuk dilayari oleh siapapun juga dipelopori Hugo Garatius (Belanda) dan Ratu Inggris Elizabeth. Hal ini ditunjukkan perlawanan armada laut Belanda dan Inggris terhadap armada Spanyol.

Azas Kebebasan laut (freedom of the seas) pertama kali dikemukan oleh Hugo Grotius dalam bukunya Mare Liberium (1609), yang berisi tentang pembelaan hak orang Belanda (atau orang lain selain Portugis dan Spanyol) untuk mengarungi lautan (termasuk hak orang Belanda untuk berlayar ke Hindia Timur) dimana alasannya adalah laut terbuka untuk siapapun juga karena tidak ada pemiliknya. Reaksi keras muncul dari penulis-penulis Inggris seperti Wellwood dan Selden karena dalam tahun yang sama (1609), Raja Inggris James I mengeluarkan larangan bagi nelayan Belanda untuk menangkap ikan di dekat pantai Inggris. Salah satu teori yang merupakan kompromi antara teori mare dausum dan mare liberum diajukan oleh Pontanus (Belanda) dengan membagi laut menjadi dua bagian yaitu laut yang berdekatan dengan pantai (yang berada di bawah pemilikan atau kedaulatan negara pantai) dan lautan yang bersifat bebas.

Menurut teori yang merupakan  penyempurnaan dari teori Bartolus ini, laut yang berdekatan dengan pantai dijadikan bagian dari wilayah negara pantai sehingga lenyaplah perbedaan antara imperium (kedaulatan) dan dominium (kepemilikan) yang dibuat oleh Grotius. Pontanus dapat dianggap sebagai pencipta yang sebenarnya dari konsepsi laut teritorial yang dikenal dalam hukum laut sekarang. Seratus tahun setelah terbitnya Mare Liberium, Cornelius van Bynkershoek (Belanda) menulis buku De Dominio Maris Dissertatio yang menolak dalil John Selden yang mengklaim bagian-bagian laut yang luas bagi negara pantai, dengan menyarankan suatu jalur tertentu (dengan ukuran lebar yang tidak terlalu besar) di bawah kedaulatan negara pantai. Sehingga dikenal suatu azas penguasaan laut dari darat berupa suatu Kaidah Tembakan Meriam, yaitu berbunyi :”kedaulatan teritorial berakhir dimana kekuatan senjata berakhir”. Dalam sejarahnya ada beberapa ukuran yang dipergunakan untuk menetapkan lebar laut teritorial sebagai jalur yang berada di bawah kedaulatan negara pantai, yaitu:

  1. Ukuran tembakan meriam.
  2. Ukuran pandangan mata.
  3. Ukuran marine league.

Setelah itu baru muncul ukuran tiga mil laut yang dalam jangka panjang waktu cukup lama dianggap sebagai ukuran lebar laut teritorial yang berlaku umum. Usaha untuk mencoba menggambarkan kaidah tembakan meriam dalam ukuran jarak yang konkrit pertama kali dilakukan oleh Galiani (Italia) dengan menghubungkannya dengan suatu jalur netralitas yang lebarnya tiga mil, selanjutnya Domenico Anzuni (Italia) lebih terkenal lagi sebagai orang yang menyamakan kaidah tembakan meriam 3 mil. Terjadi kekeliruan seperti penulis George Friedrich Von Marten yang tidak menyamakan dengan tiga mil melainkan dengan tiga league (suatu ukuran dengan panjangnya tiga mil).

Diundangkannya Territorial Waters Jurisdiction Act (1878) oleh Inggris, memperjelas ukuran tiga mil sebagai kaidah yang berdiri sendiri apalagi saat itu kedudukan armada perang dan niaganya dengan negara-negara Eropa Barat lainnya dan Amerika Serikat yang semuanya menganut kaidah tiga mil, memberikan kesan ini berlaku umum.

Oleh: yudopotter | November 6, 2009

Iphoneku dan GPSku…

Iphone, menulis satu gadget satu ini tampaknya sudah terlalu banyak diulas dari berbagai sisi dan sudut pandang. Namun kali ini saya akan menulis tentang teknologi fenomenal ini berdasarkan pengalaman pribadi saya dikaitkan dengan pemanfaatan fitur A-GPS. Awal mula saya memilih dan memutuskan penggunaan iphone ditengah-tengah maraknya handset Blackberry karena didasarkan atas pengalaman menggunakan produk Apple Macintosh lainnya. Produk Apple memang terkenal akan harganya yang relatif “mahal” untuk ukuran kantong mahasiswa dan peneliti di Indonesia. Namun hal tersebut sebanding dengan kualitas material, fitur teknologi dan desainnya. Saya tidak akan berpolemik lebih panjang lagi mengenai kelebihan produk Apple. Konsep beragam aplikasi yang bisa dijalankan didalam produk Apple memberikan keuntungan yang luar biasa bagi penggunanya. Sistem instal yang sederhana dalam beberapa klik serta download terpadu dari itunes dengan harga murah meriah (sekitar 9 ribu rupiah atau bahkan gratis!!!). Memberikan pengguna beragam aplikasi sesuai kebutuhan dan keinginannya. Bagi seorang geodet, fitur bawaan A-GPS plus beberapa aplikasi GPS seperti GPS Sports Tracking dlsb menjadi amat menarik. Berpengalaman dengan GPS handheld produk Garmin dan Magellan memberikan rasa ingin tahu seberapa jauh kehebatan A-GPS Iphone ini. Beberapa kali saya telah diselamatkan fitur ini pada saat melacak posisi di wilayah kota Bandung. Cukup menekan Map serta klik icon bidik, cepat sekali iphone merespon posisi saya terkini. Saya berpikir pasti akan menyimpang jauh sekitar 25 meter…tapi ternyata tidak!!!…malah kurang dari 8 meter estimasi saya. Bahkan kualitas sama dengan hasil track saya menggunakan Garmin 76 CSX. Bobot yang lebih ringan dan tanpa perlu kita mendownload peta kedalamnya, iphone mampu menyajikan peta digital dalam 3 versi, map (peta planimetrik), satellite (citra satelit versi google earth) dan hybrid. Serta disajikan analisis waktu tempuh dalam 3 versi: mobil,bis dan jalan kaki beserta logik pemilihan rutenya (awesome). Ingin tracking dengan pemilihan dan penentuan posisi sendiri juga bisa (tentu saja ada panduan arahnya juga). Namun bagi penggemar GPS handheld yang lebih nyaman dengan mode tampilan seperti handheld, tentu saja tidak bisa berharap pada menu maps. Anda bisa mendownload aplikasi GPS pada itunes sesuai selera Anda baik versi lite (gratis) atau full version (bayar). Fitur dan tampilan aplikasi GPS pada iphone sudah sama persis dengan GPS handheld bahkan beberapa aplikasi menawarkan fitur dan tampilan yang jauh lebih keren. Mengingat fungsinya sebagai alat komunikasi dengan bobot ringan dan simpel. Sekarang saya sudah mulai melupakan penggunaan GPS handheld setiap bepergian (sometime i still need my old gagdet). Tidak butuh koneksi 3G cukup keberadaan GSM dan syarat ruang terbuka maka iphone sudah berubah menjadi GPS. Jadi saya berfikir kenapa orang menyukai Blackberry? Dari setiap segi aspek teknologi, desain dan kualitas pelayanan jauh lebih unggul Apple. Satu-satunya keunggulan Blackberry adalah komunitas eksklusif yang dibangun atas jaringan eksklusif RIM. Selain itu, bagi seorang geodesi BB tidak bisa dihandalkan dalam tracking posisi dan sulit untuk digengam serta dikeluarkan sewaktu-waktu dari dalam kantong saku karena ukuran anehnya itu. Because of that, i love so much my black iphone….

1. Sejarah Perkembangan Metode PS-InSAR
Perkembangan PS-InSAR didahului dengan penggunaan InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar) pada awal tahun 90-an untuk pengukuran deformasi pada permukaan bumi. Kemudian PS-InSAR pertama kali dikembangkan dan dipatenkan oleh para peneliti bernama Alessandro Ferretti, Claudio Prati, Fabio Rocca dari Dipartimento di Elettronica e Informazione-Politecnico Milano, Italia (Ferretti et al., 1999) untuk studi pengukuran deformasi. Pengembangan metode Permanent Scatterer InSAR didasarkan atas teknik DInSAR (Differential InSAR) dimana pada prinsip teknik ini bersifat unik, mencakup daerah liputan yang luas untuk pelaksanaan aplikasi pengamatan dan pengukuran deformasi. Karena teknik DInSAR menggunakan citra radar multitemporal maka akan timbul temporal decorrelation dan atmospheric dishomogeneities yang mempengaruhi kualitas hasil inteferogram. Oleh sebab itu, dikembangkanlah teknik Permanent Scatterer yang dapat mengeliminasi efek tersebut dan meningkatkan akurasi DEM hingga fraksi dibawah sub-meter (bahkan hingga akurasi hingga milimeter per tahun dalam pengamatan deformasi). Adapun urutan historis perkembangan metode PS-InSAR berdasarkan jurnal para peneliti POLIMI yang telah direview, sebagai berikut:

PS-InSAR_1
2. Tujuan Penerapan Metode PS-InSAR
Tujuan dari penerapan metode PS-InSAR pada awal penelitian (Ferretti, 1999) adalah melakukan identifikasi pada single coherent pixels yang dimulai dari beberapa citra SAR yang terpisah oleh baseline yang besar dalam rangka mendapatkan akurasi DEM hingga sub-meter dan pergerakan permukaan bumi pada area koheren rendah berdasarkan basis piksel-piksel. Dimana secara ringkasnya, bertujuan mendeteksi dan mengamati pergeseran di kawasan pemukiman dengan akurasi hingga milimeter per tahunnya.

3. Komparasi Metode DInSAR dan PS-InSAR
Sebagai perbandingan penerapan metode DInSAR dan PS-InSAR (Ferreti et al, 2001; Adam et al, 2003; Panagiotis et al, 2008) sebagai berikut:
a. Metode DInSAR
1. Menghasilkan tingkat akurasi sub meter namun akan meningkat hingga fraksi milimeter per tahun apabila digunakan kombinasi teknik pengukuran geodesi lainnya (GPS dan Sipat Datar).
2. Menggunakan pasangan data yang lebih sedikit dibandingkan teknik PS-InSAR. Penggunaan pasangan citra radar pada teknik ini antara lain: 15 pasangan citra SAR (Ony, 2008), 10 pasangan citra SAR (Baek J. et al., 2008), 4 pasangan citra SAR (Fang M. et al., 2008) dan lain sebagainya.
3. Lebih mudah dalam melakukan co-registration karena hanya proses penyatuan sistem koordinat antar citra dalam satu pasangan.
4. Inteferogram yang dihasilkan dalam bentuk fringe dilihat secara spasial (konsep raster) dimana dilakukan penskalaan untuk mengetahui laju deformasinya berdasarkan skala ketelitiannya.

b. Metode PS-InSAR
1. Menghasilkan tingkat akurasi hingga milimeter per tahun dari pengolahan citra radar dengan metode PS-InSAR dan biasanya teknik pengukuran geodesi lainnya digunakan sebagai validasi akhir saja.
2. Menggunakan pasangan data SAR yang lebih banyak dalam rentang waktu maksimal 7 tahun sejak dilakukannya akuisisi data pada daerah penelitian (Worawattanamateekul J. et al., 2003). Penggunaan pasangan citra radar pada teknik ini antara lain: 17 pasangan citra SAR dari 28 pasang yang direncanakan sehingga mengalami kesulitan dalam melakukan perhitungan estimasi PS-InSAR (Worawattanamateekul J. et al., 2003), 33 pasangan citra SAR (Ferreti A. et al., 1999), 20 pasangan citra SAR (Elias P. et al., 2009) dan lain sebagainya.
3. Lebih sulit melakukan co-registration karena selain proses co-registrasi umumnya juga harus dilakukan tes homogenitas dalam rangka memisahkan dan menemukan pantulan yang diakibatkan deformasi dan aktifitas atmosfer.
4. Inteferogram yang dihasilkan dalam bentuk fringe kemudian ditransformasikan dalam konsep vektor untuk kemudian dilakukan analisis numerik menggunakan metode hitung perataan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui dan memberikan bobot terhadap piksel yang berkualitas dalam konsep irregular grid.
4. Metodologi Pemrosesan PS-InSAR
Untuk tahapan pengolahan PS-InSAR sebenarnya hanya pengembangan dari dasar-dasar pengolahan InSAR dan DInSAR dimana tahapan ringkas pemrosesan metode PS-InSAR (Adam N., 2003; Ferretti., 2001 et al) , sebagai berikut:
a. Data Input
Proses pertama adalah dengan pemilihan daerah penelitian dimana pasangan citra radar (SLC) yang memenuhi syarat koherensi digunakan. Dimana perlu diperhatikan kondisi spektralnya karena kualitas spektral ini akan mempengaruhi inteferogram yang akan dihasilkan. Untuk kebutuhan data dalam metode PS-InSAR adalah adanya kebutuhan data lebih (penggunaan citra radar yang rapat secara temporal dan tidak melebihi 7 tahun dari akuisisi data awalnya) (Woeawattanamateek J. et al., 2003).

b. InSAR Processing
Pada tahap ini dilakukan pemilihan citra master dan slave dengan parameternya adalah efektif baseline, tanggal akuisisi, frekuensi centroid Doppler dan kondisi iklim pada saat akuisisi data. Kondisi atmosfer diperlukan untuk mengidentifikasi apabila terjadi sinyal atmosfer yang kuat didalam citra radar tersebut. Selain itu, didlam pemrosesan data InSAR juga diperlukan paramater geometri pengamatan seperti height-to-phase conversion factor, the flat-earth phase, the range distance dan the look angle yang akan diperhitungkan juga.
c. DInSAR Processing
Selama pemrosesan DInSAR, dilakukan simulasi parameter-parameter geometri pengamatan. Dimana DEM dan Precise Orbit digunakan sebagai data masukan sehingga fasa inteferogram dapat dimodelkan secara teliti. Kedua hubungan sistem koordinat antara citra master dan slave diperoleh dari titik ikat bersama dipermukaan bumi. Sehingga pada tahap DInSAR juga akan dilakukan proses co-registration pada kedua citra tersebut.
d. Calibration
Pada metode PS-InSAR mulai diperkenalkan konsep kalibrasi dimana dilakukan analisis perilaku temporal backscattering berbasis piksel dengan memperhatikan bobot intensitas sebarannya. Dimana kesalahan yang muncul akibat adanya anttena pattern loss dan range spreading loss dapat direduksi seminimal mungkin.
e. Permanent Scatterer Detection
Analisis temporal dari fasa differensial terbatas pada titik pantulan dengan nilai SNR tinggi dan perilaku gelombang pantul yang stabil dalam jangka waktu lama (umumnya obyek buatan manusia). Proses identifikasi PS-InSAR didalam co-registrasi citra terkalibrasi adalah dengan melakukan tes homogenitas (Ferretti et al., 2001). Bertujuan untuk menemukan sebanyak mungkin pantulan yang disebabkan oleh pola penurunan muka tanah (deformasi) dan pola atmosfer secara rapat berdasarkan konsep spasial. Hal ini untuk menghindari adanya titik pantulan yang tidak baik kualitasnya dimana hasilnya akan berupa grid tak beraturan (irregular grid). Tahapan yang penting lainnya adalah proses ekstraksi data dan konversi data dari raster menjadi data vektor.
f. Estimation
Berdasarkan fasa DInSAR yang telah diperoleh sebelumnya akan muncul persoalan non linier inversi dikarena konsep modulo 2π (membutuhkan proses unwrapped). Hal ini bisa diselesaikan dengan menggunakan perilaku berbeda dalam kontribusi parameter akuisisinya seperti baseline efektif, baseline temporal, kesalahan orbit, jangkauan dan azimuth lokasi dari pantulan (Adam et al., 2003). Dilakukan estimasi relatif antara titik pantulan yang berdekatan satu dengan lainnya sehingga akan mereduksi pengaruh atmosfer dan kesalahan orbit. Selain itu estimasi relatif yang diselesaikan dengan teknik hitung perataan yang ditransformasikan dalam bentuk peta global deformasi 2D akan membantu dalam penyusunan periodogram laju deformasi. Umumnya didalam proses estimasi ini juga dilakukan validasi data PS-InSAR dengan metode dan algoritma tertentu pula.

Oleh: yudopotter | Mei 23, 2009

Potensi dan Keterbatasan Teknologi InSAR

I.  Potensi InSAR

            Potensial InSAR bagi pemetaan pergeseran permukaan bumi dalam skala sentimeter meliputi wilayah dalam ukuran puluhan kilometer dengan resolusi beberapa meter, membuat menjadi salah satu hal yang paling menjanjikan dalam teknik geodesi luar angkasa untuk pengamatan deformasi. Ini memungkinkan diaplikasikan untuk seluruh macam proses deformasi, penurunan muka tanah, deformasi co dan post seismik, deformasi gunung api, dan dinamika gletser dan lapisan es. Bahkan potensi identifikasi adanya deformasi yang tinggi seperti mampu melakukan identifikasi sesar sebesar 7 mm yang tidak dapat dilakukan oleh metode survey geodesi lainnya (CNES, Massonnet., 1985). Pemetaan deformasi dengan besaran pergeseran 1 mm/tahun masih dapat dilakukan oleh teknologi InSAR. Aplikasi penerapan InSAR sangat luas, dapat dilihat pada gambar I. sebagai berikut:

blog_insar

II. Keterbatasan InSAR

            Penggunaan dari repeat pass InSAR untuk studi deformasi secara umum terkendala oleh dua faktor utama (Klees, R dan Massonet., 1998), yaitu:

  1. Pengaruh atmosfer.

Penentuan perubahan permukaan bumi menggunakan teknologi InSAR didasarkan atas asumsi bahwa propagansi sinyal radar terpengaruh didalam atmosfer. Penundaan jalur (path delay) terjadi pada lapisan ionosfer dan troposfer. Penundaan jalur ionosfer disebabkan oleh adanya variasi nilai total elektron (Total Electron Content/TEC) sepanjang jalur dan gangguan perjalanan ionosfer (Traveling Ionosphere Disturbances). Serta adanya gangguan cuaca ekstrim pada lapisan troposfer juga akan mempengaruhi hasil pencitraan InSAR. Akibat pengaruh atmosfer ini akan menimbulkan artifak (bercak segitiga) pada inteferogram. Path Delay yang menyebabkan terjadinya artifak terdiri atas dua komponen yaitu komponen kering (sekitar 2,3 m pada arah vertikal) dan komponen basah (kecil tapi intensitasnya tinggi) disebabkan oleh bervariasinya kuat konsentrasi uap air secara spasial dan temporal. Secara teknis, perubahan 20% kelembaban udara secara spasial dan temporal akan menimbulkan kesalahan sekitar 10 cm pada citra deformasi. Metode eliminasi pengaruh atmosfer adalah salah satunya dengan melakukan estimasi troposfer dengan menggunakan model Saasamoinen ditunjang dengan data apriori cuaca atau citra satelit cuaca lainnya.

  1. Permasalahan dekorelasi temporal.

Faktor utama dari keterbatasan metode repeat pass InSAR adalah perubahan temporal kemampuan pantulan permukaan bumi diantara dua pengamatan satelit radar yang disebut dekorelasi temporal. Hal ini terjadi karena terjadi perubahan volume pemantulan area vegetasi khususnya di hutan, perubahan vegetasi, variasi dari kelembaban tanah, pembekuan dan pencairan, aliran lava dan perubahan oleh manusia. Untuk dekorelasi temporal tertinggi adalah permukaan air dan terendah adalah gurun pasir atau padang savana dengan tingkat vegetasi yang minimal. Secara kualitatif diketahui bahwa penggunaan teknologi InSAR akan lebih baik pada:

  1. Gurun pasir dibandingkan hutan rimbun.
  2. Kondisi kering dibandingkan basah.
  3. Panjang gelombang radar lebih panjang daripada pendek.
  4. Area pemukiman dengan pemantulan utuh (rumah dan batu) dibanding pantulan sudut yang sulit berkorelasi.
  5. Dekorelasi air yang tidak lebih 0,1 detik (yang berarti teknologi repeat pass InSAR tidak bisa diterapkan pada permukaan laut).
  6. Aktivitas pertanian manusia dibandingkan lahan pertanian individu.

Dekorelasi temporal dapat diminimalisir dengan meningkatkan jendela estimasi koherensi yang akan memisahkan area yang memiliki perbedaan korelasi secara lebih baik. Harga korelasi ini menyatakan kualitas dari sebuah interferogram di mana korelasi ρ dari citra S1 dan S2 dapat dinyatakan dengan persamaan :

blog_insar2

Oleh: yudopotter | Mei 15, 2009

Sekilas Tentang Radar

Radar ( Radio Detection And Ranging ) bekerja pada gelombang elektromagnetik berupa gelombang radio dan gelombang mikro, dengan panjang gelombang beberapa milimeter hingga sekitar satu meter. Gelombang radio dan gelombang mikro tersebut dipancarkan ke seluruh permukaan bumi dan pantulannya terdeteksi oleh sistem radar yang selanjutnya digunakkan untuk mendeteksi objek. Sehingga dengan demikian sistem ini sering disebut dengan penginderaan jauh aktif.

Besar kecilnya panjang gelombang elektromagnetik mempengaruhi terhadap penetrasi gelombang tersebut pada objek di permukaan bumi. Semakin besar panjang gelombang yang digunakan maka semakin kuat daya penetrasi gelombang tersebut. Panjang gelombang dikelompokkan menurut band-band. Panjang gelombang yang akan digunakan pada sistem radar bergantung pada aplikasi yang akan dikerjakan. Radar menggunakan satu atau lebih jenis band dalam melakukan penginderaan jauh. Radar menggunakan spektrum gelombang elektromagnetik pada rentang frekuensi 300 MHz hingga 30 GHz.

Band

Tabel 1. Panjang gelombang Radar dan Frekuensinya yang digunakan dalam Penginderaan Jauh

Aplikasi dari band-band tersebut pada sistem radar dapat dilihat pada tabel 2 berikut :

Radar_1

Gambar 1 Cara kerja radar

Sensor memancarkan gelombang elektromagnetik ke target dan diterima kembali oleh sensor untuk menentukan jarak (S).

Pengukuran jarak antara sensor dengan target menggunakan rumus :

S= ( c. Δt):2       …………………………………(1)

c  = Kecepatan cahaya.

S  = Jarak antara sensor dengan target di permukaan bumi.

Δt = Waktu tempuh gelombang elektromagnetik.

Pada permukaan bumi, pulsa gelombang radar dipancarkan ke segala arah, sebagian pantulannya diterima kembali oleh sensor. Intensitas dari gelombang pantulan ini sangat lemah dibandingkan ketika dipancarkan.

backsc

Gambar 3. Gelombang radar yang dipancarkan satelit,kemudian dipantulkan kembali kesegala arah oleh permukaan bumi dan sebagian diterima kembali oleh satelit

Ketika wahana memancarkan radar, memiliki bentuk geometri tersendiri. Berikut ini adalah faktor-faktor geometri pada pencitraan radar, yaitu :

1. Incidence Angle

Merupakan sudut yang dibentuk antara pancaran gelombang radar dengan garis yang       tegak lurus terhadap permukaan objek.

2. Depression Angle

Adalah sudut yang dibentuk dari arah horisontal ke arah garis pancaran gelombang  radar.

3. Look Angle

Merupakan sudut antara utara geografis dan arah pancaran gelombang radar atau dengan garis yang tegak lurus arah terbang wahana.

4. Look Direction

Merupakan arah antena saat melakukan pencitraan.

Older Posts »

Kategori