Oleh: yudopotter | November 16, 2010

Mengenal Geologi Cekungan Bandung


Cekungan Bandung merupakan cekungan (basin) yang dikelilingi oleh gunung api dengan ketinggian 650 m sampai lebih dari 2000 meter. Sungai Citarum yang berhulu di gunung Wayang Kabupaten Bandung (1700 m dpl) melewati dasar cekungan dan mengalir menuju Waduk Saguling, bermuara di pantai utara Jawa tepatnya di Kabupaten Karawang. Berdasarkan ciri-ciri litologi, Cekungan Bandung terbagi atas 4 bagian berdasarkan batuan penyusunnya yaitu: endapan tersier, hasil gunung api tua, hasil gunung api muda dan endapan danau (Narulita et al., 2008). Untuk penjelasan terhadap geologi Cekungan Bandung berdasarkan studi pustaka, dapat dijabarkan dalam beberapa sub bab sebagai berikut:

1.  Morfologi

Terkait dengan batas wilayah Cekungan Bandung, terdapat 4 anggapan mengenai batas luasan Cekungan Bandung (Brahmantyo, 2004), yaitu:
a. Dataran Tinggi Bandung (wilayah administratif Kota Bandung saat ini kecuali kecuali kawasan Kota Bandung utara yaitu sebelah utara jalan raya timur meliputi: Surapati-Cicaheum-Ujungberung-Cileunyi).
b. Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu.
c. Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum-Rajamandala (Waduk Saguling).
d. Batas Administratif Kabupaten Bandung Bagian Barat.
Batasan Cekungan Bandung adalah daerah yang didasarkan pada sebaran endapan danau Bandung purba yang secara morfologis membentuk Dataran Danau Bandung dan daerah sekelilingnya yang merupakan sumber asal endapan danau (Brahmantyo, 2005). Sehingga Cekungan Bandung adalah cekungan topografi yang membentuk daerah pengaliran Citarum hingga berakhir di titik aliran Citarum pada daerah perbukitan Rajamandala (Pasir Kiara-Pasir Larang, berdekatan dengan poros bendungan Saguling). Definisi batasan Cekungan Bandung ini sesuai dengan anggapan ke-3 yaitu DAS Citarum-Rajamandala (Waduk Saguling)  (Brahmantyo, 2005).
Untuk identifikasi satuan bentang alam, Cekungan Bandung dapat dibagi menjadi beberapa satuan bentang alam (Sampurno, 2004), sebagai berikut:

a. Satuan Dataran Danau Bandung

Satuan Dataran Danau Bandung berukuran cukup luas dengan ukuran kurang lebih 750 km persegi yang memanjang ke arah barat-timur, terletak pada ketinggian sekitar 700 m dpl. Luas dataran ini sekitar 20 persen dari seluruh Cekungan Bandung. Dataran ini merupakan dataran endapan danau Bandung purba yang telah mengering ribuan tahun yang lalu. Sungai utama dari dataran ini adalah Citarum yang membelah dataran danau sehingga Ci Tarum terletak pada titik terendah pada Cekungan Bandung. Di dalam satuan dataran danau terdapat Dataran Kipas Aluvial yang menempati seperlima luas Dataran Danau Bandung. Dataran Kipas Aluvial menyebar hingga meliputi daerah Cimahi-Dago sebagai batas utara menuju Cicaheum dan Buah Batu. Citarum mengalir di Dataran Danau Bandung dengan pola meander berkelok-kelok khususnya di sebelah utara Ciparay hingga Curug Jompong (sebelah selatan Cimahi).

b. Satuan Kerucut Gunung Api

Satuan Kerucut Gunung Api merupakan pagar yang mengelilingi dataran danau, menempati sekitar 70 persen dari seluruh luas daerah Cekungan Bandung.  Satuan ini terdiri dari badan gunung api kuarter dengan ketinggian sekitar 2000 m. Di sebelah utara berjajar deretan gunung api Burangrang, Tangkuban Perahu (2076 m), Bukit Tunggul, Canggak, Manglayang. Untuk di sebelah timur terdapat kerucut-kerucut gunung api kecil-kecil antara lain Mandalawangi (1650 m), Mandalagiri, Gandapura dan lain sebagainya. Bagian selatan terdapat dataran danau berjajar gunung api Malabar (2343 m), Patuha (2434 m) dan lain sebagainya. Diantara gunung-gunung api tersebut masih banyak ditemui endapan-endapan vulkanik seperti breksi vulkanik, tufa, beberapa lidah-lidah lava. Tufa di daerah Lembang dan Dago kaya akan batu apung dan bersifat tras. Ke arah Satuan Dataran Danau, kerucut gunung api menjadi melandai membentuk kaki gunung api dimana kemiringan lahannya berkisar 5 hingga 15 persen.

c. Satuan Pematang Homoklin

Satuan Pematang Homoklin adalah perbukitan memanjang yang membentuk daerah perbukitan Rajamandala-Padalarang, memanjang kurang lebih dengan arah timur timur laut- barat barat daya. Kedudukan satuan ini berada di dinding barat dari Cekungan Bandung dimana terdapat celah aliran Ci Tarum yang membelah perbukitan. Memiliki ketinggian sekitar 800-1000 m dpl dan seluas kurang lebih 7 persen dari luas total Cekungan Bandung. Pematang Homoklin menunjukkan bahwa lereng sebelah utara lebih terjal sekitar kurang lebih 30-140 persen dibandingkan daerah lereng sebelah selatan. Lereng selatan memiliki kemiringan lapisan pembentuknya sekitar rata-rata 30-60 persen. Ci Tarum menyusuri daerah di sebelah selatan perbukitan Rajamandala. Batuan-batuan pembentuknya adalah berbagai batuan sedimen marin tersier dari berbagai formasi antara lain batu gamping dan batu lempung.

d. Satuan Perbukitan Isolasi

Di dalam satuan dataran danau bermunculan bukit-bukit yang terpisah satu sama lain atau berkelompok menjadi jajaran perbukitan. Bukit-bukit tersebut dikelompokkan menjadi suatu Satuan Perbukitan Terisolasi yang terdapat di sebelah selatan Cimahi dan Dayeuhkolot dan berketinggian sekitar 800-900 m. Bukit-bukit tersebut antara lain Gunung Bohong (878 m), Gunung Pangaten, Gunung Koromong, Gunung Geulis dan lain sebagainya. Sungai-sungai yang berada di kaki perbukitan kerucut gunung api maupun yang berada di dataran danau mengandung berbagai jenis pasir untuk bahan bangunan.

2.  Geologi dan Sifat-Sifat Fisik Batuan

Litologi penyusun wadah dan isi Cekungan Bandung adalah batuan gunung api yang secara stratigrafi kegiatan vulkanismenya sudah dimulai sejak Kala Paleosen. Berdasarkan Bronto and Hartono (2006), kemungkinan pembentukan Cekungan Bandung disebabkan oleh 4 hal utama yaitu:
1. Merupakan cekungan antar gunung (intra-mountain basin), sebagai bentukan utamanya adalah proses eksogen.
2.  Merupakan graben, sebagai bentukan murni deformasi tektonika.
3.  Merupakan kaldera, sebagai bentukan murni letusan gunung api.
4. Merupakan volcano-tectonic calderas, sebagai hasil perpaduan proses tektonika dan  vulkanisme.
Cekungan Bandung terdiri atas berbagai formasi morfologi yang terdiri atas berbagai batuan berumur Oligosen hingga Resen. Batuan-batuan tersebut dikelompokkan dalam beberapa formasi (Sampurno, 2004 dan Hutasoit, 2009), sebagai berikut:

a. Formasi Cibeureum

Merupakan lapisan aquifer utama dengan sebaran berbentuk kipas yang bersumber dari Gunung Tangkubanparahu. Formasi ini terutama terdiri atas perulangan breksi dan tuf dengan tingkat konsolidasi rendah serta beberapa sisipan lava basal, dengan umur Plistosen Akhir-Holosen. Breksi dalam formasi ini adalah breksi vulkanik yang disusun oleh fragmen-fragmen skoria batuan beku andesit basal dan batu apung.

b. Formasi Kosambi

Nama Formasi Kosambi diusulkan oleh Koesoemadinata dan Hartono (1981) untuk menggantikan nama Endapan Danau yang digunakan oleh Silitonga (1973). Sebaran formasi ini dipermukaan adalah di bagian tengah. Litologinya terutama terdiri atas batu lempung, batu lanau dan batu pasir yang belum kompak dengan umur Holosen. Formasi ini mempunyai hubungan menjemari dengan Formasi Cibeureum bagian atas. Berdasarkan sifat litologinya, formasi ini berperan sebagai akuintar di kawasan Cekungan Bandung.

c. Formasi Cikapundung
Formasi ini adalah satuan batuan tertua yang tersingkap di daerah penelitian (Koesoemadinata dan Hartono, 1981) dan terdiri atas konglomerat dan breksi kompak, tuf dan lava andesit. Umur formasi ini diperkirakan Plistosen Awal. Kekompakan litologi penyusun formasi ini dapat digunakan sebagai salah satu pembeda dengan formasi Cibeureum serta dasar untuk menentukan peran formasi ini sebagai batuan dasar hidrogeologi di kawasan Cekungan Bandung. Menurut Silitonga (1973) formasi ini adalah ekuivalen dengan Qvu. Selain formasi ini, berdasarkan sifat litologinya Qvl, Qvb, Qob, dan Qyl dapat dimasukkan sebagai batuan dasar. Satuan-satuan lain yang membentuk batuan dasar adalah batuan gunung api Kuarter (kecuali Formasi Cibeureum dan Formasi Cikapundung), batuan gunung api Tersier, batuan sedimen Tersier, dan batuan terobosan yang tercakup didalam peta geologi.

c. Endapan Batuan Vulkanik (Kuarter)

Berbagai endapan gunung api dapat dipisahkan antara lain berdasarkan umur maupun komposisi. Umumnya terdiri dari breksi vulkanik, tufa, lidah-lidah lava, endapan lahar dan aglomerat. Tufa dari Gunung Tangkuban Perahu yang menyebar hingga Lembang, beberapa tempat di Dago, dan Kipas Aluvial Bandung utara, sebagian besar mengandung batu apung yang bersifat berpori dan permeabel. Tufa yang membentuk daerah Gunung Burangrang, Gunung Sunda, Gunung Bukit Tunggul, Gunung Canggak dan perbukitan Dago Utara hingga Maribaya terdiri atas breksi vulkanik berselingan dengan endapan lahar, tufa halus dan lidah-lidah lava. Sifat batuan umumnya sedikit kompak daripada tufa berbatu apung tetapi masih cukup permeabel. Lapisan endapan vulkanik di sebelah utara umumnya menunjukkan kemiringan ke arah selatan sekitar 5-7 derajat. Pada permukaannya, endapan vulkanik menunjukkan tanah hasil pelapukan yang bersifat gembur dan mudah terkikis tetapi subur.

d. Endapan Danau Purba

Terdiri dari lapisan-lapisan kerakal, batu pasir, batu lempung, tersemen, lemah, gembur dan terkadang kenyal. Beberapa lapisan bersifat permeabel dan menjadi akifer yang baik. Beberapa lapisan lain bersifat lembek, organik dan mempunyai daya dukung rendah dan air tanah yang dikandungnya dapat bersifat agak asam atau berbau sulfur. Kedudukan lapisan umumnya horisontal dengan hubungan antar lapisan kadang-kadang berbentuk silang jari.

e. Endapan Aluvial

Terdiri dari kerikil, pasir, lanau dari endapan sungai atau endapan banjir pada umumnya bersifat lepas sampai tersemen lemah, atau plastis bahkan dapat bersifat mengalir bila jenuh air. Pasir lepas dan kerakal endapan sungai masih mengandung cukup banyak lumpur.

Sebagai gambaran dari kondisi geologi kawasan Cekungan Bandung, dapat dilihat pada gambar 1, sebagai berikut:

Sumber Referensi:
Brahmantyo, 2004. Mencari Delineasi Geomorfologi Cekungan Bandung. Departemen Pekerjaan Umum: Jakarta
Brahmantyo, 2005. Geologi Cekungan Bandung. Diktat Kuliah. Institut Teknologi Bandung: Bandung
Hutasoit, 2009. Kondisi Permukaan Air Tanah Dengan Dan Tanpa Peresapan Buatan Di Daerah Bandung: Hasil Simulasi Numerik. Jurnal Geologi Indonesia: Bandung


Responses

  1. bagi-bagi data vektornya donk…

    • Wah….ada lisensi labnya tuh semua data vektornya Pak…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: