Oleh: yudopotter | Februari 9, 2009

Gelombang Laut

Gelombang laut merupakan bentuk aliran energi di hidrosfer khususnya di lautan menuju daratan (litosfer). Penyebab terjadinya gelombang dilautan diakibatkan oleh 3 aspek, antara lain: angin, perputaran (disturbance) dibawah laut dan adanya gaya gravitasi oleh matahari dan bulan.

            Pergerakan gelombang laut ini akan memberikan perbedaan bentuk gelombang tergantung pada tipe lautannya (tipe lautan dalam atau dangkal). Karena pada dasarnya gelombang laut tidak berinteraksi dengan dasar lautan disebabkan molekul air bersirkulasi dalam bentuk rotasi. Bentuk dari sirkulasi ini lebih bergantuk kepada kedalaman lautan dimana semakin dalam maka energi pembentuk gelombang laut ini akan semakin kecil. Gelombang laut yang berada dilautan lepas umumnya akan bersifat kuat, tinggi dan acak sedangkan yang berada di lautan dangkal atau sudah mendekati pesisir pantai akan bersifat lemah, rendah dan berpola memanjang sejajar garis pantai. Namun terkadang apabila terjadi fenomena tsunami yang mengakibatkan pelepasan energi dari litosfer melalui hidrosfer (lautan) secara besar dan tiba-tiba. Akan memberikan dampak gelombang di lautan dangkal atau garis pantai akan memiliki sifat sama dengan gelombang di lautan lepas atau bahkan lebih ekstrim pola dan sifatnya.

Iklan
Oleh: yudopotter | Februari 9, 2009

Transfer Panas (Heat Transfer)

Transfer panas merupakan bentuk mendasar dari interaksi atmosfer dan hidrosfer. Dimana seluruh gejala-gejala alam yang terjadi didalam interaksi atmosfer dan hidrosfer merupakan fenomena dari dampak adanya transfer panas antara dua karakteristik alam.

            Perambatan panas atau pun pelepasan panas akan selalu diikuti oleh penyerapan panas dari unsur hidrosfer menuju unsur atmosfer dan sebaliknya. Unsur utama panas yang berada diantara atmosfer dan hidrosfer berasal dari sinar matahari. Dimana berkas sinar matahari berupa radiasi panas merambat dari ruang angkasa menuju sistem atmosfer bumi. Besarnya intensitas energi panas matahari yang diterima bumi bergantung pada posisi lintangnya. Umumnya intensitas panas matahari akan diterima bumi pada daerah equator sebagai energi panas yang terbesar 

            Jumlah energi matahari yang sampai kepermukaan bumi tergantung kepada posisi lintang. Hal ini disebabkan miringnya sumbu bumi yang merubah sudut insolasi yang menimbulkan 4 musim di wilayah sub-tropis. Permukaan bumi, daratan dan lautan merupan variabel penyerap sinar matahari yang baik dimana energi tersebut akan diubah dan disimpan dalam bentuk energi panas. Besarnya komposisi energi radiasi matahari yang diserap dan dipantulkan kembali oleh atmosfer, lautan dan daratan bumi. Didalam ilmu thermochemistry, proses transfer panas ini disebut juga Latent Heat. Pengertian Latent Heat adalah besarnya energi dalam bentuk panas yang dilepaskan dan diserap oleh subtansi selama proses perubahan fase (mis padat, cair atau gas) yang disebut juga fase transisi. Fungsi matematika Latent Heat ini disusun atas persamaan Q=m.L (dimana Q=besaran energi yang dilepaskan dan diserap; m= massa subtansi; L=besaran nilai spesifik Latent Heat). Untuk susunan besaran nilai spesifik Latent Heat untuk beberapa subtansi, dapat dilihat pada tabel 1.1., sebagai berikut:

 

Substance

Latent Heat
Fusion
J/g

Melting
Point
°C

Latent Heat
Vaporization
J/g

Boiling
Point
°C

Alcohol, ethyl

108

-114

855

78.3

Ammonia

339

-75

1369

-33.34

Carbon dioxide

184

-57

574

-78

Helium

 

 

21

-268.93

Hydrogen

58

-259

455

-253

Lead

24.5

372.3

871

1750

Nitrogen

25.7

-210

200

-196

Oxygen

13.9

-219

213

-183

R134a

 

-101

215.9

-26.6

Toluene

 

-93

351

110.6

Turpentine

 

 

293

 

Water

334

0

2500 (at 0oC)

100

Tabel 1.1. Besaran Nilai Spesifik Latent Heat

Kabar terbaru dari kampus ITB khususnya teknik geodesi dan geomatika adalah meninggal dunianya (Minggu, 08 Februari 2009) salah satu mahasiswanya yang bernama Wisnu (angkatan 2007-22 tahun) setelah mengikuti OS IMG yang diselenggarakan di Gunung Batu Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang. Menurut berita dimedia massa, mahasiswa tersebut telah meninggal dunia saat dibawa ke RS Borromeus sekitar pukul 3 dinihari sementara pihak ITB baru mengetahui kejadian ini sekitar pukul 9 pagi. Pihak ITB membantah jika penyelenggaraan kegiatan tersebut bersifat legal atau memiliki ijin dari rektorat ITB namun pihak polsek Coblong menyatakan bahwa panitia penyelenggara sudah menyertakan ijin dari pihak prodi teknik geodesi dan geomatika. Berdasarkan kesaksian dan keterangan panitia dan alumni yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut, menyatakan bahwa tidak terdapat hukuman dan kekerasan fisik selama pelaksanaan OS tersebut. Selain itu, mahasiswa tersebut sudah dipisahkan dari rekan-rekannya selama pelaksanaan OS dikarenakan hilangnya motivasi dan mendapatkan perawatan khusus dari tim medis. Pihak panitia juga telah berinisiatif untuk memulangkan mahasiswa tersebut untuk langsung dirujuk ke rumah sakit. Walaupun pada saat akan diangkat mahasiswa tersebut sudah dalam kondisi sudah tidak bernyawa lagi. Hal ini menjadi polemik tersendiri bagi civitas akademik ITB khusus teknik geodesi dan geomatika. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran paling berharga dalam kaderisasi mahasiswa dimasa depan. Terlepas dari siapa yang salah dan benar, diharapkan semua pihak bisa memandang peristiwa ini dengan bijaksana dan adil. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi serta dimanfaatkan berbagai pihak untuk dipolitisir sehingga pada akhirnya akan mengekang kreativitas dan kemandirian mahasiswa teknik geodesi dan geomatika ITB. Semoga arwah bung Wisnu diterima di sisi-Nya serta diampuni segala kesalahannya. Amien 33x.

« Newer Posts

Kategori